CKA Ajak 16 Pebisnis Kolombia Kembangkan Pariwisata Ambon

24 Januari 2017 12:17:42
Industri pariwisata Indonesia masih bisa dikembangkan lebih besar lagi. Biro Pusat Statistik (BPS) mencatat, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada bulan Agustus 2016 naik 13,19 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu, yaitu 1,03 juta wisman. Angka ini bisa lebih besar jika banyak pihak bergandengan tangan. Hal inilah yang disadari Yayasan Citra Kasih Abadi (CKA), IPMI dan AISEC, melihat potensi wisata di Indonesia Timur, tepatnya di Ambon.

cka
Sebanyak 16 pengusaha Kolumbia diundang ke Ambon untuk melihat potensi pariwisata daerah ini

CKA yang didirikan pada 2008 telah secara rutin melakukan pelatihan gratis di bidang kewirausahaan, pertanian, kecantikan, elektronik dan sebagainya untuk Ambon, dengan proyek bertajuk ‘Wonderful Ambon’. Yang dilakukan oleh Juliana Pateh sebagai pendiri CKA dan Rio Siby, ternyata mengundang AISEC Indonesia (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commercials) untuk bekerja sama mengembangkan Wonderful Ambon.

AISEC adalah organisasi inetrnasional yang ada di 128 negara teramasuk Indonesia, mengelola internship di berbagai negara. Program AISEC adalah global talent, global volunteer, youth speak, hometown project, entrevolution project, dan kini ada ‘Wonderful Ambon’ bersama CKA.

Pada 15 Agustus lalu, sekitar 16 profesional dan pebisnis asal Kolombia dibawa AISEC untuk program internship di Pulau Tihulale, salah satu target pengembangan desa untuk Wonderful Ambon. Disampaikan Laura Paiba Santos, salah satu perwakilan internship Kolombia, dengan berbagai latar belakang 16 orang yang datang, selama dua bulan, mereka melakukan pengembangan potensi pariwisata, kewirausahaan lokal, dan perdagangan di desa tersebut. Tihulale terletak di Provinsi Maluku, Pulau Seram bagian Barat dengan jumlah penduduk 2.125 jiwa.

“Desa ini indah sekali, tapi potensinya belum maksimal dikembangkan,” ujar Laura yang juga seorang wartawan di Kolombia. Salah satu kegiatan besar yang diselenggarakan adalah pada 23 September dengan tema Costal Cleanup Festival. Acara yang didukung Bank Maluku itu memberikan sumbangan berupa alat kebersihan, seperti tong sampah, gerobak sampah, dan truk pengambilan sampah. Tim dari Kolombia ini juga membantu pemasangan penerangan jalan di desa berupa 23 panel surya.

Tim ini juga secara serius memasarkan potensi wisata Desa Tehulale. Pada 1 Oktober, mereka ke Jakarta untuk menggelar promosi wisata tersebut. Selain itu menggalang donasi untuk program pengembangan desa dan berhasil menggaet beberapa perusahaan dan universitas. Pada 7 Oktober bekerja sama dengan IPMI Bussiness School menggelar workshop tentang pengelolaan sampah berupa bank sampah yang diterapkan dalam kegiatan mereka di sana.

“Kami juga membantu masyarakat Desa Tehulale bagaimana menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan dengan pendidikan entrepreneurship bagi mereka, juga kami ajarkan mereka Bahasa Inggris sederhana,” imbuh Laura.

Dengan program yang diadakan tim Kolombia itu diharapkanDesa Tehulale yang memiliki keindahan alam meningkat industri wisatanya. Disampaikan Melly Itje, Pengurus CKA,dengan menggandeng AISEC peran bimbingan dan pengembangan masyarakat setempat untuk menjadi pengusaha homestay profesional justru akan lebih maksimal. “Adapun pembimbingan dilakukan dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris, upaya bimbingan juga pada industri food and beverages, dengan harapan para pelaku usaha restoran memiliki standar manajemen berskala interansional,” katanya.

Rio Siby, Ketua CKA, menambahkan, selain melakukan internship tim dari Kolombia ini melakukan business matching dengan pebisnis Indonesia. “Pada 16 Oktober kami sudah melakukan business matching, sudah terjadi 3 atau 4 business deal, pada 17 Oktober malam juga diadakan business matching di Jakarta, sekitar 5 atau enam business deal dicapai,” ujar Rio.

Penulis : SysAdmin
Hit Rank: 199